Rabu, 17 April 2013

One day Trip - Saung Angklung Udjo

Pada Senin, 15 April kemaren semua anak Kebendaharaan Negara melakukan studi tour dengan tema “Aku Cinta Budaya Nusantara” ke Bandung. Di sana kami akan mengunjungi Museum Sri Baduga yang merupakan Museum Jawa Barat dan Saung Angklung Udjo. Saya merasa sangat senang sekali dengan adanya acara ini, karena mungkin ini adalah study tour resmi yang disetujui pihak sekretariat STAN dan spesialisasi Kebendaharaan Negara yang pertama kali merasakannya. Bangga wes sama kerja keras panitia dari FOKMA (Forum Komunikasi Mahasiswa Anggaran) dan pelayanan yang benar-benar prima dan sepenuh hati dari Bidang Akuntan STAN :D Buat study tour ini kami hanya dikenakan biaya Rp30.000,00 itu udah termasuk transport PP menggunakan bus yang bagus, makan siang dan malam, snack yang berkali-kali sampai saya merasa muak, tiket masuk Museum dan tiket Saung Angklung. Terbuaek kan? Hahahaha

Nah di Museum Sri Baduga kami mendapat kertas kerja untuk mencari penjelasan tentang berbagai gambar yang ada. Di Saung Angklung Udjo kami mendapat tugas untuk membuat laporan hasil pertunjukan. Nah ini dia ni yang mau aku bagikan sama kalian sakaligus mengisi kekosongan blog yang hampa.. huhuhu

Saung Angklung Mang Udjo merupakan sanggar seni sekaligus sebagai tempat pertunjukan seni, laboratorium pendidikan dan juga sebagai obyek wisata budaya khas daerah Jawa Barat dengan mengandalkan semangat gotong royong antar sesama warga desa. Tempat 'nyeni' ini didirikan oleh Udjo Ngalagena (Alm) yang akrab dipanggil dengan Mang Udjo, dan istrinya yang bernama Uum Sumiati pada tahun 1966. Saung Angklung Mang Udjo juga dikenal dengan nama Saung Angklung Udjo (SAU).SAU berusaha mewujudkan cita-cita dan harapan mendiang Abah Udjo yang atas kiprahnya dijuluki sebagai Legenda Angklung.

Pertama kali saat sampai di halaman parkir sekitar pukul 17.00, saya kebingungan saung Udjo itu yang mana sih karena ada begitu banyak pondok-pondokan. Saya kemudian bertanya kepada teman yang orang Sunda, arti saung itu apa sih? Ternyata sauang itu memang benar seperti pondokan. Kalau orang bugis mungkin hampir sama kayak bale-bale. Ternyata saung yang menjadi tempat pertunjukan itu agak masuk ke dalam. Begitu turun dari bus, saya langsung masuk ke toko souvenir, disana dijual beranekaragam pernak-pernik khas Sunda, terutama angklung. Barang yang dijual di sini adalah gantungan kunci, kaos, kipas, gelang, sandal, tas, sampai replika angklung, belt cewek, kalung, dompet, dan masih banyak lagi. Di sana saya membeli souvening angklung mini dan gantungan kunci buat pacar. Ahahahaha. Harganya relatif terjangkau sih, cuman ya memang kebanyakan merupakan pernak-pernik untuk cewek, susah mencari oleh-oleh yang pas dan murah meriah untuk cowok. :I

Setelah beberapa saat berbelanja, kemudian toko souvenir didatangi banyak turis asing. Waww.. saya sangat takjub sekali, ternyata tempat ini rame. Para turis ini telah selasai menonton pertunjukan jam 15.30, Jadwal pertunjukan di SAU adalah tiap jam 15.30 dan 18.30. Sekitar pukul 18.00 saya telah selesai berbelanja. Kemudian saya menemani teman saya yang akan melaksanakan ibadah sholat. Sembari menunggu, saya iseng-iseng berjalan-jalan di sekitar area saung.. karena sudah malam, gelap dan hujan, suasana disekitarnya agak sedikit menakutkan. Namun, begitu berjalan beberapa langkah, tampak suara gadung di bawah sinar lampu, saya bersama seorang teman pun mendekatinya. Ternyata itu suara anak-anak yang sedang latihan untuk pertunjukan. Tempatnya bagus banget, bener-bener asri, seandainya datangnya agak lebih cepat, mungkin capture gambar kamera pinjaman saya lebih bagus. Ahahahha *aku gak modal.

Sekitar pukul 18.25 kami pun bersiap-siap ke arena pertunjukan, saat mengambil duduk saya bersama 2 orang teman (Mitzah dan Nunik) kebingungan, teman-teman yang lain pada dapet es krim dan kami tidak T.T ternyata kami harus masuk melalui pintu masuk untuk mendapat es krim. Dan tidak hanya itu ternyata kami juga masih mendapat souvenir berupa kalung berbandul angklung serta brosur. Wow, senengnya. Xixixixi.
Acara pertama/pembuka dari Pertunjukan Bambu Petang ini adalah demonstrasi wayang golek. Wayang golek khas tanah sunda yaitu pementasan sandiwara boneka kayu yang menyerupai badan manusia lengkap dengan kostumnya, yang pada mulanya sering dipentaskan sebagai bagian upacara-upacara adat seperti : upacara bersih desa, ngaruwat, dll, oleh seorang dalang. Ditinjau dari filsafatnya, kata wayang yang berarti bayangan, merupakan penecerminan dari sifat dalam jiwa manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah, dll. Jadi ada dua macam sifat dari wayang golek, yang baik biasanya dipegang dengan tangan kanan, dan yang jahat dipegang dengan tangan kiri. Dalam setiap pementasannya, wayang selalu membawa pesan moral agar kita selalu patuh pada Pencipta dan berbuat baik terhadap sesama. Siapa menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebahagiaan, dan barang siapa melakukan kejahatan, maka ia akan menanggung akibatnya.
Umumnya, pementasan wayang golek berlangsung lebih dari 7 jam, yaitu pada malam hari, semalam suntuk sekitar pukul 20.00-21.00 hingga pukul 04.00. Di Saung Angklung Udjo (SAU), hanya akan ditampilkan demonstrasi wayang golek, antara lain peragaan bagaimana wayang berbicara, menari dan berkelahi sekitar kurang lebih 15 menit. Pertunjukan ini diriingi oleh alat musik gamelan. Meski kami tidak mengerti bahasa yang digunakan namun tawa tak bisa ditahan ketika salah satu wayang memukuli kepala wayang lainnya.
Berikutnya adalah penampilan tradisi helaran. Helaran seringkali dimainkan untuk mengiringi upacara tradisional khitanan maupun pada saat upacara panen padi. Angklung yang digunakan adalah angklung dengan nada Salendro/Pentatonis yaitu nada asli angklung Sunda yang terdiri atas Da Mi Na Ti La Da. Helaran ini sendiri dimainkan dengan nada yang riang gembira, karena memang ditujukan untuk menghibur dan untuk menunjukkan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat. Pada pertunjukan ini, Helaran dimaksudkan untuk upacara tradisional khitanan. Pertama-tama  disuguhkan tarian kuda lumping oleh bocah pria yang diuruti dengan tarian bersama dengan murid-murid lain. Anak yang habis khitanan dihibur oleh teman-temannya agar tidak merasakan sakit lagi.
Dilanjutkan dengan pertunjukan arumba. Arumba adalah alat musik tradisional terbuat dari bambu bertangga nada diatonic, dengan tahap menghasilkan nada yang harmonis dan dinamis. Diciptakan pada tahun 1970-an, arumba merupakan singkatan dari A untuk alunan, Rum untuk rumpun dan Ba untuk bambu. Di sini MC menyanyikan lagu Peyem Bandung.
Selanjutnya kami disuguhkan atraksi bermain angklung bersama, disini dibawakan 5 lagu nusantara, yakni Bungong Jeumpa (Aceh), Pak Kecipak Kecipuk (Padang), Kicir-Kicir (Batavia), Cublak-cublak Suweng (Jawa tengah), Yamko Rambe Yamko (Papua) oleh para anak-anak.
Nah, acara selanjutnya sangat menarik bagi semua pengunjung karena kami diajari bagaimana caranya bermain angklung! Masing-masing pengunjung dibagikan angklung yang ada nomornya (nada) dan kami diajari mengenal kode nada yang diberikan oleh MC. Wow, tidak disangka kami akan bermain angklung, menciptakan harmonisasi nada! Pengalaman yang satu ini benar-benar unik dan rasanya ingin terus terulang. Beberapa lagupun mengalun seperti; I Have a Dream dan Burung kakak tua. Kami semua hanyut dan tidak ingin berhenti bermain angklung! Tapi pertunjukan tetap harus berlanjut.
Selanjutnya adalah penampilan Orkestra. Sekarang angklung sering dimainkan sebagai orchestra, sering juga dikombinasikan dengan permainan alat music seperti gitar, perkusi, dll. Angklung dapat memainkan hampir semua jenis lagu, klasik, komtemporer, pop serta mengiringi vocal. Di satu sisi, keistimewaan angklung adalah alat music yang sangat menarik dibawakan secara missal, di sisi lain permainan angklung yang baik akan tercipta bila antara pemain terdapat kekompakan.. Disini dinyanyikan lagu terajana, dan para teman-teman dari STAN ikut bernyanyi serta berjoget di panggung.
Yang paling akhir dari Pertunjukan Bambu Petang ini adalah menari bersama pengunjung diiringi permainan angklung. Suasana sangat meriah dan gembira. Puas adalah kata yang tepat mewakili perasaan kami setelah menyaksikan Pertunjukan Bambu Petang di SAU. Suasana ramah, tempat dengan aura seni yang kental, suara angklung, riuh tepuk tangan, semua melengkapi kebahagiaan bisa berada di tempat ini. 

slide show

Loading...

wibiya widget